Sabtu, 29 Agustus 2009

Mencari Mutiara Terpendam Melalui Pembangunan BKM

Oleh : Faisal Riza*

Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) merupakan lembaga pimpinan kolektif yang menjadi lembaga kepercayaan masyarakat untuk membangun kemandirian menuju tatanan masyarakat madani. Olehkarena itu keanggotaan dari lembaga tersebut terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat, perwakilan orang miskin, orang kaya maupun perwakilan dari lembaga-lembaga sosial lainnya yang ada di masyarakat.

Untuk menanggulangi permasalahan kemiskinan tentunya tidak bisa dilakukan secara individu, akan tetapi menanggulanginya harus secara kolektif dengan seluruh komponen masyarakat yang ada, karena untuk menanggulangi permasalahan kemiskinan tidak hanya dilakukan oleh orang yang mengalami permasalahan tersebut tetapi juga orang-orang yang mampu harus terlibat di dalam penanganan masalah ini. Olehkarena itu orang-orang inilah yang menyatukan dirinya dengan ikatan solidaritas kemasyarakatan di dalam satu wadah yang dinamakan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).

BKM di dalam Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), akan terlalu kecil apabila hanya kita pahami sebagai upaya untuk menyelesaikan salah satu siklus yang ada untuk menanggulangi kemiskinan, tanpa kita harus memperhatikan nilai-nilai yang terkandung di dalam lembaga tersebut agar lembaga itu benar-benar merupakan representasi dari masyarakat yang didasari pada ciri individu yang sukarela, jujur, kesetaraan, kemitraan, inklusif, demokratik, mandiri, otonom, proaktif, bersemangat, saling membantu, menghargai kesatuan dalam keragaman dan kedamaian untuk menuju masyarakat madani.

Membangun semua itu tidak bisa sekedar ”sim-salabim” semuanya bisa terwujud dan sesuai dengan keinginan masyarakat. Hal itu merupakan awal dari pekerjaan yang besar untuk membangun sebuah ”istana megah” yang dapat melindungi, memenuhi kebutuhan dan dapat membanggakan orang-orang sekitarnya yang merasa memiliki istana tersebut. Membangun sebuah lembaga yang mengutamakan kepentingan masyarakat dan melakukan pemberdayaan kepada manusia-manusianya jauh lebih ”sulit” dari membangun ”istana megah” karena tanpa memahami secara utuh substansi kelembagaan masyarakat, maka akan mengalami kekecewaan terhadap lembaga yang dibentuk.

Membangun sebuah lembaga (BKM) yang benar-benar representatif, manjadi lembaga amanah masyarakat dan mengakar di masyarakat adalah sebuah pekerjaan yang harus melibatkan partisipasi masyarakat secara keseluruhan. Jika tidak melibatkan partisipasi masyarakat, maka siap-siaplah masyarakat untuk menerima munculnya sebuah “lembaga kepentingan” yang dilahirkan dari hasil ”tunjuk sana- tunjuk sini”, ”pilih sana- pilih sini” dan didasari atas prinsip ”suka atau tidak suka” seperti yang selama ini dipertontonkan oleh elit-elit dalam satu komunitas.

Yang dipilih dan diundang adalah orang-orang tertentu saja, bukan atas dasar demokrasi dan transparansi kepada masyarakat atas pemilihan itu. Sehingga orang-orang yang terpilih di dalam lembaga tersebut bukan cerminan dari keinginan masyarakat, akibatnya masyarakat tidak percaya dan tidak merasakan manfaat dari adanya lembaga tersebut yang seharusnya memperjuangkan, melindungi dan mengayomi masyarakat.

Oleh karena itu, melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) Penanggulangan Kemiskinan di perkotaan (P2KP) kita harus lebih serius ”mencari mutiara terpendam” untuk membangun sebuah lembaga yang dinamakan Badan keswadayaan Masyarakat (BKM). Mutiara-mutiara yang terpendam di dalam ”kubangan” masyarakat adalah orang-orang yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Kecerdasan, kearifan, keuletan, kesabaran dan tentu saja kejujuran dan keikhlasan merupakan pancaran mutiara yang melekat pada diri seseorang.

Sebelum membangun sebuah lembaga BKM dan akan melakukan pemilihan orang-orang yang memegang amanah di lembaga tersebut, diperlukan pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kemasyarakatan. Hal ini harus dibicarakan habis-habisan pada Pemetaan Swadaya khususnya dalam kajian kepemimpinan dan kelembagaan atau melakukan review kelembagaan. Jika tidak serius dilakukan, maka akan muncul orang-orang yang menginginkan BKM menjadi milik pribadi atau kelompok yang hanya mementingkan diri pribai dan kelompok. Disinilah akan muncul kebijakan BKM yang tidak berpihak kepada masyarakat miskin.

Disadari atau tidak carut marutnya kehidupan masyarakat yang mengalami kemiskinan adalah karena menyusutnya nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Seorang pemimpin/pengambil kebijakan tidak akan berlaku curang jika ia memiliki pancaran nilai-nilai tersebut. Banyak program pemberdayaan yang digulirkan ke masyarakat ternyata belum menunjukkan dampak yang berarti untuk perubahan kehidupan. Jangankan mandiri, untuk menjadi masyarakat yang sudah mampu saja masih jauh dari harapan. Masih banyak masyarakat yang mengeluh bahwa kegiatan/bantuan yang diberikan kurang memberi manfaat untuk kehidupan selanjutnya karena lembaga dan oknum yang dipercaya sebagai pelaksana program telah berlaku curang, khianat dan menyakiti hati masyarakat.

Ternyata selama ini kita telah mengabaikan nilai-nilai luhur yang ada di dalam diri setiap manusia yang akhirnya harus dibayar mahal dengan kemiskinan dan kemelaratan. Kita asyik mementingkan diri sendiri, memuaskan kebutuhan sesaat, serakah, curang dsb. Hingga kita lupa menggali, mencari, menemukan dan mengangkat kepermukaan nilai-nilai luhur bak mutiara yang selama ini terpendam di dalam kubangan masyarakat untuk dijadikan dasar dalam melakukan pemberdayaan untuk mengembangkan potensi diri dan potensi alam sebagai modal menuju kesejahteraan. Dan kita juga lupa bahwa untuk merubah kehidupan dan menyelesaikan persoalan ketidakmampuan masyarakat menjadi mampu dan akhirnya mandiridi tidak bisa dengan sendiri, tetapi harus bersatu dan berkumpulkan dalam satu ”istana megah” yaitu BKM sebagai representasi dari masyarakat.

* SF Tim 4 Koorkot 3 Tanjungbalai KMW 5 Sumut
Continue Reading...

Minggu, 21 Juni 2009

Mengawali Aktifitas Baru.............di Lokasi Baru

Pengembaraan akhirnya harus dilanjutkan di OC-8 Sulawesi Barat, dengan posisi yang baru juga............
kata orang itu namanya pulang kampung, tapi aku melihat dari sisi lain......
semata-mata untuk pengembangan diri dan pengabdian pada Indonesia.......









Kawan2 yang akan merelakan waktu, tenaga
dan materi untuk rakyat"ku"
Continue Reading...

Sabtu, 25 April 2009

Pertemuan Medan “Hotel Century part Two versi Medan”

Hari Selasa tanggal 14 April 2009, tepatnya pukul 17.20 WIB telepon Kantor Koorkot 3 Kota Tanjungbalai Sumatera Utara berdering, pada saat itu sudah tidak ada lagi staff yang menjawabnya, karena mereka sudah pada pulang semua. Akhirnya dengan rasa sedikit agak memelas karena kelelahan setelah seharian penuh mendampingi BPKP mengaudit SKPD Kota Tanjungbalai terkait pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan, saya menjawab telepon tersebut, dan ternyata berasal dari Kantor KMW 5 Sumut (yang sudah barang tentu itu adalah Sekretaris KMW) “bang kami mau nge-faks surat dari Satker Provinsi, tolong disampaikan juga ke Satker PIP Kota Tanjungbalai, surat aslinya akan dikirim via kereta api….tolong ya bang”.

Itu adalah undangan Rapat Koordinasi dengan agenda utamanya adalah “Pemantapan Pembahasan Kebutuhan BLM PNPM Mandiri Perkotaan Tahun 2009”, yang dilaksanakan tanggal 17 April 2009 di Diklat PU Kota Medan, dimana pesertanya adalah seluruh Satker PIP dan PPK Kabupaten/Kota yang menjadi sasaran PNPM-MP di Provinsi Sumatera Utara. Ini adalah salah satu langkah maju yang diambil oleh SNVT-PBL Sumatera Utara (Bapak Ir. Nazaruddin Nasution, MAP), dan kita bisa memberikan apresiasi tersendiri untuk itu.

Kegiatan ini diilhami pada pertemuan Hotel Century Jakarta Tahun 2008 yang dilaksanakan guna menetapkan target optimis pencairan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk semua kelurahan sasaran di Indonesia dan menetapkan kebutuhan riil DIPA T.A. 2008. Belajar dari pengalaman tersebut, SNVT-PBL Sumut mencoba mengumpulkan seluruh Satker PIP Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, Koordinator Kota dan Askoorkot Mandiri guna memastikan kebutuhan BLM PNPM Mandiri Perkotaan Tahun 2009 yang akan diusulkan ke Pemerintah Indonesia agar dianggarkan di DIPA Tahun 2009 untuk Program PNPM Mandiri Perkotaan Provinsi Sumatera Utara.

Kegiatan berlangsung di Diklat Pekerjaan Umum Kota Medan Sumatera Utara dalam suasana yang serius tapi santai (Sersan), hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya sekat-sekat yang terjadi, dialog berjalan penuh kekeluargaan (keluarga besar PNPM-MP). Sebagai narasumbernya adalah Bapak Ir. Boby Ali Azhari, M.Sc (Kepala Satker P2KP Pusat) dan Bapak Ifan Afani (TA Monev KMP PNPM-MP).

Dalam penjelasan oleh Tim Pusat, bahwa alokasi BLM setiap kelurahan tetap disepakati apa yang tertuang dalam Pedoman Umum PNPM-MP dengan besaran BLM yang akan dialokasikan adalah sesuai dengan kategori jumlah penduduk suatu wilayah (kecil, sedang, besar), namun demikian sempat juga terjadi perdebatan yang sedikit banyaknya membingungkan para peserta, terutama Satker dan PPK Kabupaten/Kota yang hadir, yaitu mengenai surat edaran yang melampirkan Alokasi Dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan “Hasil Konsinyasi”.

Inilah salah satu yang melatarbelakangi rapat koordinasi tersebut, untuk meluruskan dan menyatukan persepsi yang berbeda yang terbenam di kepala masing-masing peserta. Diakhir acara setiap Satker atau PPK yang didampingi oleh Koorkot dan Askorkot Mandiri mengidentifikasi kebutuhan BLM dan target optimis pencairan BLM Tahun 2009 untuk setiap kelurahan dengan berpegang pada indikator yang ada, dan untuk lebih menguatkan dokumen tersebut, diputuskan untuk membuat hasil kesepakatan yang ditandatangani oleh Satker P2KP Pusat, TA Monev KMP, SNVT-PBL, Team Leader, Satker PIP Kabupaten/Kota dan Koorkot/Askorkot Mandiri untuk selanjutnya akan diteruskan ke Pusat.

Setelah semuanya dianggap selesai dan mencapai apa yang diharapkan, maka selanjutnya sebagaimana lazimnya, dimana ada pembukaan, disitu pula pasti ada penutupan. Kegiatan ditutup oleh Kepala SNVT-PBL Sumatera Utara dengan pesan sederhana namun penuh makna “mudah-mudahan pertemuan tidak menjadi penyebab adanya Revisi DIPA yang berulang-ulang”. Terima kasih………………
Continue Reading...

Rabu, 08 April 2009

BANTUAN TEKNIS PELAKSANAAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN






Para Peserta Kegiatan...........lagi srius mendengarkan penjelasan dari Bapak M. Irfan dan Adih (KMP Advanced) tentang pelaksanaan Program PAKET, Channeling dan ND, yang dipandu oleh TL KMW 4 dan 5 Sumatera Utara











Acara berlangsung di Hotel Madani Kota Medan selama 2 hari yaitu tanggal 2-3 April 2009, yang melibatkan peserta dari jajaran pemerintah daerah (Satker PIP Kota/Kabupaten, Kepala SKPD, Camat dan PJOK) dan jajaran Konsultan (Tenaga Ahli, Korkot dan Askorkot Mandiri).
Sebagai penyelenggara adalah SNVT PBL Provinsi Sumatera Utara
Continue Reading...

Reposisi

Per Tanggal 1 April 2009........terjadi reposisi (ada faskel baru, faskel jadi SF, SF naik posisi ke Askorkot, Askorkot jadi Koorkot, Koorkot Reguler ke Koorkot Advanced) untuk semua wilayah di Sumatera Utara, termasuk Koorkot 3 Tanjungbalai-Labuhan Batu KMW 5 Sumatera Utara. ini adalah hal yang biasa dalam tubuh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) untuk memberi kesempatan kepada teman-teman yang memiliki kinerja dan prestasi yang baik (reward).
Ada yang naik, ada yang tetap, dan ada juga yang harus turun atau bahkan diberhentikan (punishment) bagi mereka yang kinerjanya sangat mengkhawatirkan.
untuk teman-teman yang diberi kesempatan menduduki posisi baru, marilah bekerja dengan profesional, kita tunjukkan bahwa kita memang pantas menerima posisi tersebut.................kawan-kawan jangan lupa diri.....ini tugas mulia dan merupakan pilihan hidup untuk karir kedepannya..............
untuk teman-teman yang masuk dalam Tim Advanced.......sukses selalu (kata orang itu artinya naik kelas), terlepas dari kata orang tersebut..........jangan membuat kita merasa lebih dari yang lain. buktikan kalo semua itu adalah semata-mata bagian dari kewajiban kita untuk mensukseskan program ini............

salam pemberdayaan
Continue Reading...
 

Blogroll

Site Info


Text

" Jadi orang penting, memang menyenangkan, tapi yang terpenting.....jadilah orang yang menyenangkan "

Oversight Consultant - 8 Sulawesi Barat Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template